Kesal

Pernah berada dalam sebuah situasi dimana anda dijadikan bahan becandaan? Ada yang cuek saja? Tapi ada yg pernah merasa kesal? Merasa dipermalukan? Karena candaannya tidak lucu, atau bisa jadi situasi yang sama terjadi mungkin tak hanya sekali tapi berkali-kali?

Yang menjadi bahan olokan mungkin sebenarnya bukan hal besar, tetapi kita merasa berat hati jika perkara yang tidak besar itu jadi bahan olokan. Apalagi didalamnya ada unsur fitnah (sesuatu yang tidak terbukti kebenarannya). Lalu yang kadang bikin lebih kesal lagi, pelaku adalah orang yang menurut kita tak pantas melakukan perilaku semacam itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya, dan juga berkali-kali. Disatu sisi mungkin kita mendapat kesimpulan yakni, “Oh, memang seperti itu orangnya” sehingga sudah seyogyanya jadi permakluman kits semua; namun disisi yang lain juga membuat semakin kesal, karena seperti yang diutarakan sebelumnya, in my point of view seorang pelaku tsb menurut kitabseharusnya sudah cukup paham bahwa humiliating others adalah hal yang tidak pernah patut dilakukan, dan andaikan itu sebatas guyonan pun, tidak ada guyonan yang pantas dilakukan if it intended to hurt someone. Andai ini diperpanjang dengan, “kan aku gak berniat menyakiti perasaan siapapun?” artinya orang tersebut tidak cukup berpengetahuan dan berhati nurani. Humor is subjective. Yang lucu buat anda, belum tentu lucu buat saya.

Saya yakin hampir semua orang pernah merasa kesal, entah itu karena berbagai hal atau karena merasa being humiliated . Menurut kepercayaan yang saya anut, konon ketika kesal melanda maka jika kita berdiri duduklah, jika duduk berbaringlah. Ini konon meredakan kekesalan.

(Pun saat ini, saya sedang kesal. Maka sembari duduk saya pun tergelitik untuk membuat tulisan mengenai humiliation ini).

Apa sih yang dimaksud dengan being humiliated? Apa itu humiliation? Apa itu dipermalukan?

Berikut definisi dari humiliation, yang saya kopikan dari sini.

Definitions:

  1. Feeling      disrespected.
  2. A loss      of stature or      image.
  3. An      image change reflecting a decrease in what others believe about your      stature.
  4. Induced      shame
  5. To      reduce the pride      or fail to recognize the dignity of another
  6. An      event perceived to cause loss of honor and induce shame.
  7. Feeling      powerless.
  8. Being      unjustly forced into a degrading position.
  9. Ridicule,      scorn, contempt or other treatment at the hands of others.

Root: from Latin humilis, low, lowly, from humus, ground. Literally, “reducing to dirt”.

Jadi, ada banyak hal yang bisa menjelaskan dan menjadi contoh apa itu humiliation. Mulai dari rasa tidak dihormati, direndahkan, dibuat malu, kehilangan muka, membuat gambaran tentang siapa kita (tentu dalam makna peyoratif) berubah, membuat tidak bedaya, dan seterusnya. Seperti yang saya rasakan tadi. Saya merasa dipermalukan, dipermainkan, tidak dihargai, dan difitnah, dijadikan bulan-bulanan.

Masih menurut sumber yang sama, berikut beberapa sinonim dari humiliation:

“Synonyms include losing face, being made to feel like a fool, feeling foolish, hurt, disgraced, indignity, put-down, debased, dejected, denigrated, dishonored, disrespected, dis’ed, defamed, humbled, scorned, slighted, slurred, shamed, mortified, rejected, being laughed at.”

Dan berikut bentuk-bentuk humiliation yang bisa saja terjadi (sumber: disini)

Humans have many ways to slight others and humiliate them. For example:

  • Overlooking      someone, taking them for granted, ignoring them, giving them the silent      treatment, treating them as invisible, or making them wait unnecessarily      for you,
  • Rejecting      someone, holding them distant, abandoned, or isolated,
  • Withholding      acknowledgement, denying recognition, manipulating recognition,
  • Denying      someone basic social amenities, needs, or human dignity,
  • Manipulating      people or treating them like objects (it) or animals, rather than as a      person (thou).
  • Treating      people unfairly,
  • Domination,      control, manipulation, abandonment,
  • Threats      or abuse including: verbal (e.g. name calling), physical, psychological,      or sexual,
  • Assault,      attack, or injury
  • Reduction      in rank, responsibility, role, title, positional power, or authority,
  • Betrayal, or being      cheated, lied to, defrauded, suckered, or duped,
  • Being      laughed at, mocked, teased, ridiculed, given a dirty look, spit on, or      made to look stupid or foolish.
  • Being      the victim of a practical joke, prank, or confidence scheme.
  • False      accusation or insinuation,
  • Public      shame, disrespect, or being dis’ed, downgraded, defeated, or slighted
  • Forced      nakedness,
  • Rape or      incest,
  • Seeing      your love interest flirt with another, induced jealousy, violating your      love interest, cuckolding,
  • Seeing      your wife, girlfriend, sister, or daughter sexually violated,
  • Dishonor,
  • Poverty,      unemployment, bad investments, debt, bankruptcy, foreclosure,      imprisonment, homelessness, punishment, powerlessness,
  • Denigration      of a person’s values,      beliefs,      heritage, race, gender, appearance, characteristics, or affiliations,
  • Dependency,especially on weaker people,
  • Losing      a dominance      contest. Being forced to submit.
  • Trespass such      as violating privacy or other boundaries,
  • Violating,      denying, or suppressing human rights

Ternyata banyak ya bentuknya… Semoga ini bisa membuat kita lebih hati-hati supaya dapat lebih menjaga sikap pada manusia lain.

illustration_bullying

Nah, jika humiliation ini terjadi ditempat kerja, bisa-bisa menjadi apa yang disebut sebagai workplace bullying. Menjadikan rekan sebagai olok-olokan, merendahkan walau dengan maksud humor apalagi terus diulang, merupakan bentuk-bentuk bullying. Workplace bullying ini adalah sesuatu yang berpengaruh negatif terhadap individu, dan tentu saja berpengaruh yang tidak baik pula untuk kinerja organisasi/perusahaan. Coba bayangkan jika korban kemudian merasa sangat malu, terluka, hingga dia tidak bisa bekerja dengan benar. Apa jadinya kemudian?

“No one can make you feel inferior without your consent.”

Eleanor Roosevelt

Saya sangat setuju pada sitasi Roosevelt diatas. Tak ada satupun didunia yang mampu membuat kita merasa inferior kecuali kita yang mengijinkannya. Cuekin saja, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Anggap saja orang yang menyakitkan tersebut orang gila, khilaf, yang pantas kita belaskasihani.

Namun, tidak selalu kita bersikap acuh. Tidak selamanya manusia berada pada keadaan dan situasi hati yang sama. Apalagi ketika ranahnya ada dalam lingkup tempat kerja.

Efek bagi individu yang mengalami workplace bulliying memang beragam. Bisa seperti saya yang paling kesal sebentar dan besok sudah lupa, namun ada juga yang hingga mengalami stress, depresi, masalah pencernaan, mengalami masalah kecemasan, ganguan tekanan darah, masalah dalam hubungan interpersonal, insomnia, hingga post-traumatic syndrom disorder.

Sementara itu efek bagi organisasi atau perusahaan tentu tidak kalah besar. Mulai dari angka turnover yang meningkat, sementara investasi untuk mencari karyawan baru bukanlah sesuatu yang murah. Berkurangnya produktivitas karena bisa motivasi bekerja yang menurun. Menurunnya inovasi, karena pelaku bully lebih tertarik untuk alih-alih berpikir untuk memajukan perusahaan, justru bagaimana membuat olokan untuk temannya, dan korban bully pun menjadi malas untuk mengemukakan idenya. Yang tidak kalah besar efeknya adalah, dengan situasi kerja seperti ini, pekerja berkualitas mana yang akan betah dan tertarik untuk bekerja pada organisasi atau perusahaan yang membiarkan bullying seperti ini?

Maka, mengenali dan mencegah serta menghentikan segala bentuk bulliying adalah hal yang seharusnya dilakukan oleh semua orang ditempat kerja. Dan, menyambung curhatan saya diawal, jokes atau guyonan juga bisa jadi masuk dalam kategori bullying, lho.

Oke, semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang lain dalam menghentikan segala bentuk bullying. Yang jelas, ternyata menulis sangat bermanfaat dalam meredakan kekesalan hati saya.

Untuk menutup, saya ingin mengulang mengutip sebuah tulisan yang menarik dari Irby Jackson:
humor itu subjektif, kawan. Melucu memang bisa dilakukan siapa saja, namun hanya mereka yang melakukannya disaat yang tepat, menggunakan kecerdasan, dan juga memiliki kesadaran akan sifat manusia lah yang akan sukses.

 Image

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

i like you. but why?

Kenapa ya,  kita bisa tertarik dengan seseorang? Pernah gak, anda mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan ini? Atau lebih mundur lagi, pernah gak, terpikirkan pertanyaan tersebut?

Bagi yang menerima takdir dengan apa adanya, selamat. Mungkin penjelasan: ya… love is blind and so sudden sudah cukup untuk anda. Tetapi, bagi anda yang masih ingin mencari penjelasan, yuk kita sama-sama bahas disini.

Pertama, ada hal yang disebut the propinquity effect . Orang yang paling sering kita temui atau melakukan kontak dengan- adalah orang yang paling besar kecenderungannya untuk menjadi teman dekat atau pacar. Efek ini yang menjelaskan dan dijelaskan oleh pepatah jawa yang berbunyi Witing trisna jalaran saka kulino (cinta timbul karena terbiasa). Sedangkan dari tinjauan psikologi sosial, kita mengenal istilah the mere exposure effect. Zajonc (1968 –tua banget ya?- ) menemukan bahwa semakin banyak kita diekspos dengan sesuatu, semakin tinggi rasa suka kita terhadap hal tersebut.

#tips1 Lagi ngincer cowok atau cewek? Sering-seringlah ngider didekat mereka. Manfaatkanlah sms, telpon, wotsap, ngemail, etc etc. Bisa juga dengan diam-diam menempelkan fotomu ditempat-tempat strategis yang biasa dia lihat. Masukkan fotomu dalam screen saver hapenya, layar komputernya. Tempel dimeja kerjanya, langit-langit kamarnya, sepanjang jalan yang dia lewati… Ingat… the more exposure the more she /he will like you…

Tapi ingat… Hal ini bisa menghasilkan efek bumerang. Kata Perlman dan Oskamp (1971), ekspos yang berlebihan akan stimulus yang tidak disukai justru membuat level ketertarikan menurun. Hayoo,,,, kalau dari awal si dia sudah menunjukkan ketidaksukaan terhadap anda, eksposure yang anda lakukan justru membuat si dia makin sebel dengan anda.

Tapi tenang, ada cara menyiasati kok.. Salah satunya, seperti yang diungkapkan oleh Zajonc, Markus, dan Witson (1974) melalui eksperimen yang mereka lakukan. Bagi yang kebetulan impresi pertama si pujaan hatinya tidak begitu menggembirakan, silakan coba tips yang didapat dari hasil penelitian Zajonc dkk ini. Pertama, asosiasikan diri anda dengan sesuatu yang menyenangkan  buat si dia, baru lakukan gencarkan “the more exposure” mission seperti yang dipaparkan diatas. Misalnya saja, bila secara fisik anda tidak rupawan. Maka carilah asosiasi atas diri anda dengan sesuatu yang lebih positif, misalnya anda yang lucu, baik hati, menyenangkan, unyu, dan lain-lain. Nah, kalau asosiasi positif tentang anda tersebut sudah terbentuk pada si dia, baru anda jalankan taktik diatas.

Oke, sekarang kita lanjut pada penjelasan kedua, yakni: Similarity effect. The birds of feather flock together. Lebih dari 2000 tahun yang lalu, Aristotle bilang, bahwa kesamaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Seseorang cenderung menyukai mereka yang sama dengan dirinya. Kesamaan ini bisa dari berbagai hal, misalnya saja sikap, nilai, kepribadian, karakteristik demografik, dan sebagainya. Pasti familiar lah, dengan perasaan: dia tuh… gue banget! Ya! (coba deh lihat video favorit saya ini: http://www.youtube.com/watch?v=k6Y4W4PXYbI hahahah! )

#tips2 coba cari tau apa kesukaan dia, dan mulailah menyama-nyamakan.

Pelaku: Lo suka music apa?

Target: jazz

Pelaku: Eh gue juga lho… Kalo bebek goring suka ga?

Target: suka

Pelaku: IIiiih  kok sama…. gue juga suka lho… Kok kita bisa sama banget yaaaa…

**********HUEEEKKKKK********************************

Pesan moral: Tips diatas adalah tips yang sebaiknya tidak dilakukan. Karena dengan tidak menjadi diri sendiri demi seseorang, artinya anda sedang menggali kubur untuk diri sendiri. Capek bro, kalau harus pura-pura jadi orang lain. Kecuali anda suka acting dan short term relationship, sebaiknya sih jangan. Jadi, penjelasan tentang similarity effect ini lebih tepat untuk memberikan penjelasan kenapa si A suka dengan si B, yang bisa jadi karena memiliki banyak kesamaan. Berbeda dengan si A yang berusaha menyamai si B supaya si B tertarik pada si A. Karena ternyata, selain karena  similarity atau kesamaan, kesukaan juga bisa timbul karena sebaliknya lho, yakni karena perbedaan. Mereka yang berada pada aliran ini menganggap bahwa yang berkebalikan itu justru yang menarik karena saling melengkapi (complementary).

Oke, lanjut ke penjelasan ketiga. Penjelasan yang lain tentang mengapa kita menyukai seseorang adalah apa yang disebut sebagai Resiprocal Liking. Karena seseorang bersikap baik kepada kita, maka kita cenderung bersikap baik dengan orang lain, bukan? Nah, kalau ada orang yang dengan tulus menyukai kita, biasanya sih kita juga akan suka dengan orang tersebut. Apalagi jika kemudian dimediasi dengan ekspos yang lebih seperti pada poin pertama. Hmm,,

#Tips3 Baik-baiklah dengan banyak orang namun superbaiklah dengan orang yang anda sukai saja. Everyone wants to be the special one, bro! #eh

Well, we are about our last reason why we’d like someone. Yeah, klasik: physical attraction. Memang ada stereotip bahwa what beautiful is good, misalnya yang orangnya cantik atau ganteng itu baik. Apalagi sekarang marak beredar cantik dan ganteng kemarin sore, kalau meminjam istilah Tukul Arwana. Dan jangan salah lho, karena dibalik ketidakkerenan bisa jadi tersimpan sejuta potensi dan sebaliknya. Namun memang, parameter dari fisik yang menarik itu bisa berbeda satu dengan yang lain. Misalnya saja standar kecantikan wanita Indonesia adalah mereka yang berbadang langsing, rambut panjang lurus, kulit putih mulus dan imut-imut ala cherrybelle. Tetapi bagi orang Nigeria, cewek-cewek yang gemuk justru yang menarik, karena gemuk adalah lambang kemakmuran. Nah lo.

#tips4 masing-masing orang punya standar fisik yang menarik sendiri-sendiri. Jadi untuk yang masih belum laku juga, selalu pede, sabar, dan berpikir positif bahwa dibelahan lain didunia ini, anda adalah PUJAAN!

Nah,,, sekian dulu ya, cerita tentang hubungan antarpersonal khususnya perihal mengapa kita bisa suka dengan orang lain. Ada bagian-bagian yang memang saya karang-karang sendiri (misalnya pada #tips). Tetapi sebenarnya, apa yang saya sampaikan ini adalah salah satu bagian yang dipelajari dalam psikologi sosial. Pada bagian selanjutnya saya akan membahasa mengenai model-model hubungan antarindividu. Seru kan? Don’t miss it!

Image

 

 

Referensi:

Perlman, D., & Oskamp, S. (1971). The effects of picture content and exposure frequency on evaluations of Negroes and whites. Journal of Experimental Social Psychology, 7, 503–514.

Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure. Journal of Personality and Social Psychology, 9, Monograph Suppl. No. 2, part 2.

Zajonc, R. B., Markus, H., and Wilson, W. R. (1974). Exposure effects and associative learning. Journal of Experimental Psychology, 10, 248–263.

 

7 Komentar

Filed under Uncategorized

toleransi itu rumit

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kesempatan emas yang bisa jadi langka. Pergi ke luar kota dan menjadi peserta. Apa maksudnya? Begini, kantor mengadakan acara rapat koordinasi dan pelatihan, pada hari kerja. Kali ini tidak duduk manis didalam kelas, namun di sebuah hotel yang berada di kawasan tenang dan dingin. Hore!

Bagi saya hal tersebut adalah kenikmatan.

Yang menarik lagi adalah, salah satu materi yang disampaikan adalah tentang MBTI. Yup! Mengenal diri melalui MBTI (sila telusur link ini untuk tahu apa itu MBTI) . Walaupun dunia pendidikan dan pekerjaan saya tidak jauh dari alat ini, tetapi baru kali ini saya khidmat menilai diri: which type am I?

Dan ya, ternyata dengan panduan instruktur jadinya lebih mudah. Yess, I am ISTP. Introvert Sensing Thinking Perceiving. Intinya sih saya seorang yang………………………. dingin. Helyah! Bahkan dari “doa” yang disediakan untuk orang dengan tipe ini pun menarik:

“God, help me to consider people’s feeling even if most of them are hypersensitive.”

Menarik, kan? Heheh. (jadi mohon maaf ya jika kadang saya terkesan seenaknya sendiri; heartless bitch, they said 😀 ). Yang jelas, dari situ saya bersyukur, mulai dapat memahami diri sendiri yang terkadang seringnya membingungkan. Dan terlebih, pengetahuan berharga ini didapat dihari kerja namun dalam suasana liburan.

Namun, bukan tentang ISTP atau MBTInya yang saya ingin bagikan. Tetapi, bahwa semua orang disitu saat itu saya yakin juga menemukan insight yang kurang lebih sama. Secara lebih besar, kami menjadi tahu sama tahu bahwa semua orang itu… Berbeda. Bahkan ISTP saya dengan mba R yang juga ISTP, bisa jadi berbeda gaya.

Juga tentang,

Bahwa setiap orang itu unik. Bahwa setiap insan itu berbeda. Sepele memang, bahkan semua juga tahu mungkin. Tetapi toh nyatanya tidak mudah memahami ini dan lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

[Jika kita kita tahu, maka kita punya sikap, lalu alur kemungkinannya adalah kita akan memiliki intensi untuk berbuat sesuai dengan sikap itu dan puncaknya diterjemahkan dalam pebuatan. Idealnya begitu ya. ]

Pemahaman dan amalan ini………  ternyata tidak sesederhana itu. ternyata tdak berkorelasi positif dengan usia, gelar, dan tetek mbengek lainnya. Juga, andai kata pemahaman kita sebut A (attitude) yang mengarahkan pada I (intention); ternyata tidak lantas memprediksi B (behavior).  

Contohnya saya. Boleh sombong gelar sudah dua, umur sudah nggak muda. tetapi masih juga dalam proses belajar dan memahami.

Ah, dunia semakin rumit saja!

1 Komentar

Filed under Uncategorized

“Lord grant me …

“Lord grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can and the wisdom to know the difference.”

[The prayer of St. Francis of Assisi]

Tinggalkan komentar

Juli 5, 2013 · 1:23 am

mundur untuk maju

“yawis, santai dulu, ngenggar-enggar penggalih dulu, gih, ” kata seorang teman senior waktu saya panik dirundung suatu persoalan dan harus membuat keputusan.

Ngenggar enggar penggalih, asalnya dari bahasa Jawa, yang maksud dan artinya secara berat dijelaskan disini:

Yakni berfikir secara intutif, dalam terminologi Jawa dikenal sebagai makna dalam ungkapan menggalih (analisa menggunakan rasa).Dalam suasana yang rumit atau saat menghadapi suatu persoalan berat, orang Jawa sering mengatakan, akan melakukan ngenggar-enggar penggalih. Sebagai sebuah cara yang akan meningkatkan kesadaran aku kepada kesadaran pribadi. Kesadaran aku atau kesadaran rasa sejati tidak bersifat statis tetapi dapat berubah dinamis apabila diri kita melakukan upaya-upaya peningkatan kesadaran. (sumber: blog ini)

atau, gampangnya pengertian dari ngenggar-enggar penggalih sepengetahuan saya adalah: untuk sesaat meletakkan persoalan untuk sejenak, enggak sepaneng memikirkan permasalahan satu itu saja, tapi merilekskan pikiran, sesaat, sehingga ketika kita kembali, pikiran jadi lebih jernih, dan bisa melihat persoalan yang mendera dengan lebih tenang, dan harapannya, bisa mendapatkan solusi dan membuat keputusan yang tepat.

Iyess,, persoalan, masalah,  adalah makanan kita sehari-hari. Udah jelas lagi buru-buru, eh, jalanan malah macet gara-gara ada truk mogok. Lagi butuh banget duit, eh, malah harus ngeluarin uang ekstra karena sakit. dan huauauauauauauaua,,, (ini adalah respon tulis saya setiap menghadapi kesulitan 😀 )

Nah, saya sih disini bukannya akan menulis tips bagaimana memberantas atau bebas masalah dalam sejam, atau, bagaimana mengatasi masalah tanpa masalah (kalau ini sih kepegadaian saja, hehe). Tetapi tentang bagaimana sikap hidup yang selama diajarkan kepada saya sebagai seorang Jawa ketika menghadapi persoalan, seperti halnya yang dikatakan oleh senior saya: yakni untuk ngenggar-enggar penggalih. Etapi bukan pula ingin membahas ngenggar enggar penggalih dan filosofinya. Terlalu berat dan dalam buat saya yang cuma bocah kemaren sore -ngeles-.

Yang saya ingin curahkan adalah, ketakjuban saya dengan local wisdom mengenai ngenggar-enggar penggalih ini, yang notabene keberadannya sudah sejak jaman simbah-simbah kita dulu. Kalau dilihat dari perkembangan ilmu di luarnegri sono, kayaknya baru tahun 1935 simbah Lewin melalui field theory-nya, memperkenalkan konsep yang nyaris sama dengan ngenggar-enggar penggalih dari simbah-simbah kita itu.

Jadi, kata Lewin, masalah, halangan (obstacles, red), secara harafiah adalah yang nutupi kita dari A menuju B. Ada dua cara jika kita menghadapi situasi seperti ini: kabur atau menghadapi masalah yang ada. Nah, selanjutnya, dengan menghadapi masalah ini, solusi akan tercapai setelah kita merestrukturisasi kejadian yang kita hadapi ini. Melihatnya menjadi lebih global, gak sepaneng dengan masalahnya dowang. Sehingga, kita mulai mampu melihat dan memetakan apa sih masalahnya, goal yang mau kita capai apa, dan kita berada diposisi mana. Lebih lanjut, kata Lewin, pandangan holistik semacam itu  membuat kita menjadi lebih berjarak dengan masalah yang kita hadapi sehingga mampu melepaskan diri dari tekanan, namun tetap dengan tidak keluar dari situasi yang kita hadapi. Dengan demikian, kita mampu melihat dengan jernih, dan memecahkan masalah dengan tepat.

Nah, kan, kalo dirasa-rasa, konsep ngenggar-enggar penggalih dan field theory Lewin dan holistic viewnya ini mirip banget kan ya.. Iya gak? Bangga gak sih, bahwa sebenarnya kita ini sejatinya kaya akan pengetahuan dan kebijaksanaa? Hanya sayangnya memang, eksplorasi akan hal ini disini sangat kurang. Bahkan kayak saya, baru ngeh setelah kenal dengan yang lain-lain. Semacam: tergoda dengan orang lain yang lebih keren, tapi pada akhirnya menyadari bahwa ternyata dia yang kita  hadapi itu sudah baik buat kita.  (Hahaha, teteeep, dihubung-hubungkannya dengan masalah cinta)

(tetapi justru disitu kan, letak “kemanusiaan” nya. Tanpa proses belajar semacam ini, robot dong, kita? )

Nah, nah nya lagi, kok ya,, lagi-lagi, londo lagi yang kemudian masih penasaran tentang “kebijaksanaan” ini. Ada sebuah jurnal yang rupanya meneruskan hasil pemikiran simbah Lewin dengan lebih detil dan seksama. Sebut saja Marguc dan kawan-kawannya dari universitas di Amsteram sana (2011), yang ngoprak-oprak tentang topik yang sama. (Well, yeah, bagaimanapun, obstacle, adalah topik menarik dan gak akan pernah ada matinya. Ya gak?)

Dan, dan, hasilnya ya masih tetap sama, lho. Lagi mumet ngadepin masalah? Monggo ngenggar-enggar penggalih dulu, sits, bro. Karena menurut hasil penelitian yang judulnya “Stepping Back to See the Big Picture”:

obstacles may prompt people to broaden their perception and think in a more integrative, open-minded way that influences how they solve completely unrelated tasks.(Marguc, Förster, and Van Kleef, 2011.)

Nah kan? (makanya, manut sama simbah dan ibuuuk… 😀 )

So, to sum up,,,

  1. Kita harus bangga dan lebih banyak lagi mengeksplorasi local wisdom asli indonesia (manut dan mengamalkan juga kaliya?) Banyak benernya. Suer. Walopun dulu (dan sampe sekarang) saya juga masih suka ngeyel, kata saya: “ah itu kan cuma digothakgathukmathuk!” (nah lo, apa lagituh,,, 😀 ). Intinya, saya ngeyel aja. Kalo sudah dibikin scientific, nah, baru manut. hehe.
  2. Bahkan londo pun mengamini, bahwa disetiap kejadian, permasalahan, itu ada hikmahnya.
  3. Sekali lagi, bahwa :

Bingung untuk diurai.Sukar untuk dipecahkan. Sulit untuk dihadapi. dan hidup, ya, untuk dijalani.

Tanpa itu semua, ya gak kan  naek kelas kita….! (karena didalam penelitian tersebut juga dicantumkan S&Knya: hanya buat mereka yang bertahan dalam situasi sulit tersebut, alias gak kabur. Hehehehee)

Jadi?

/katagita

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

tentang cinta lagi

Tergelitik saya dengan ungkapan tentang cinta disebuah sosial media:

Falling in love is easy but staying in love is special.

Jap, secara kasar,  bisa disimpulkan kegagalan dalam hubungan adalah juga kegalan dalam term staying itu tadi. (wah, saya ndak mau bahas ini, ah. setidaknya tidak saat ini.) Oh iya, gambar anjing dengan the real pupyeyes ini adalah wajah Alfie, anjing yang bikin saya jatuh cinta from the first sight. (hebatnya, terjadi setelah saya pobhia anjing selama lebih dari 20 tahun!).

IMG-20121024-WA0018

#catatan kaki: Memang selalu ada harapan untuk cinta

Tinggalkan komentar

Filed under hati, Soulmate

tentang pelangi lagi

2012-09-18 18.36.14

2012-09-19 07.52.53Pelangi kerap kali singgah dilangit Manchester, yang nampaknya selalu abu-abu setiap hari.

Seperti kamu yang terus menampilkan indahmu disetiap megamendungnya hariku.

/katagita

Tinggalkan komentar

Filed under hati, Menangkap warna